Are you sure, girl?

Alright then... Here they go...

Harvard University (Can I step my feet there, Ya Rabb?? )


Princeton University ( I wish I can have a free ticket here, eheheh)



Massachusetts Institute of Technology
(Hopefully I can face you in the future)



Stanford University
(Just let me in, once would be fine though >.<)


Columbia University (Bring me here, anyone? XD )


Yale University
(Let's give a visit to this campus, next year? interested?


We'll see what's going to happen in the future, Insya Allah. ^^

Aku tak Tahu

Tahukah??
Entah apa yang bisa membuat orang begitu arogan dan pendendam hingga memutuskan silaturahim.

Entah apa yang membuat risau dan mengusik cemburu padahal begitu direnungkan kembali, kerdil sekali hati yang berfikir dan bereaksi begitu rupa.

Entah apa pula yang membuat orang merasa perlu menyakiti hati orang lain dengan dalih keterusterangan padahal ia sadar ada cara yang lebih bijak untuk menyampaikan.

Entah apa yang membuat orang begitu mudah patah semangat saat yang diusahakannya pupus padahal ia pernah yakin Allah tak akan membatalkan apa yang menjadi hak seorang hamba.

Entah apa yang membuatnya menangis dalam sedan yang tak berkesudahan padahal telah pernah ia rasakan kesedihan dan airmata tidak tinggal selamanya.

Entah apa gerangan yang membuat orang berhenti berjalan padahal ia melihat banyak orang dalam gegas yang purna.

Entah apa yang membuat orang berburuk sangka padahal ia tahu rasa cemas dan was-was adalah jalan syaitan menggoyahkan manusia.


Dan,
Untuk semua itu aku terus mencari jawaban, terus memperbaiki diri untuk menemukan jawaban yang paling mungkin menyelesaikan semua tanya.


wallahu'alam

The Way We Treat Friendship...

~Men kick friendship around like a football, but it doesn't seem to crack. Women treat it like glass and it goes to pieces.~ ( Anne Morrow Lindbergh)

Alright??
okay, then. ^^;
*I give a promise I'll write clearly later on*

That Big Ego

Seberapa besar ego yang disemayamkan dalam diri tiap kita sebenarnya? Hampir pasti cukup besar hingga kemudian begitu sulit menemukan orang yang tidak arogan dalam mempertahankan ide-ide pembenaran menurutnya. Pasti cukup besar hingga kemudian begitu mudah bertemu mereka yang sangat yakin kebenaran mutlak selalu ada di tangan dan mulutnya, tak pernah pada diri orang lain. Pasti cukup besar hingga betapa terkadang siapapun cukup mudah untuk merasa tak sudi dan menahan diri dari sepotong kata maaf dan memilih untuk menzalimi hatinya sendiri untuk bergeming di tempatnya berdiri, tempatnya sendiri.

Being a self righteous person may never wrong. What is not true that they false anyone who disagree to what they said. What an irony.

Bitter Life

~ sometimes life’s just like a tormenting game, what you want is right in front of you but you can’t get it ~ ( Takemoto Yuta – Hachikuro)

Can’t agree more to those words he said. Yep, I’m really going with that. Then after saying it, may someone will drop his word and finish your line, “that’s what so called life, my dear”

Berapa kali kita dihadapkan pada hal-hal sedemikian rupa dalam hidup kita, sejak dulu, sepanjang kita mulai mampu mengingat-ngingat dan mencatat sendiri hal-hal yang kita dapat, hal-hal yang berhasil kita capai, hal-hal yang lewat begitu saja di hadapan kita, ataupun hal-hal yang mereka atau kita sendiri beri judul ‘gagal’ ? berapa banyak kali?

Allah saja yang paling tahu dan Penyimpan Rahasia yang paling amanah bukan? Rahasia dari tiap kita, aib kita yang ditutup-Nya, khilaf dan salah yang diampunkan-Nya, semua, semuanya.
Allah juga yang paling tahu berapa banyak kali kita menyemai harap dan seberapa besar kesungguhan yang kita upayakan untuk menunaikan harap itu menjadi capaian usaha kita. Sebagai makhluk yang beriman pada-Nya, tentu kita yakin Allah saja yang paling tahu.

Ketika yang pernah ‘singgah’ dan ternyata memang hanya sekedar singgah di persimpangan jalan kehidupan kita, ikhlas dan kerelaan lah yang mampu menjawab kesedihan dan kekecewaan. Percaya bahwa Allah menyimpan skenario paling baik buat kita. Dan seyogianya kita harus siap melakoni apapun yang tertulis dalam skenario itu, walau dapat kita pastikan kita selalunya tak pernah tahu skenario apa yang akan berlaku. Yang bisa kita lakukan hanya mengupayakan yang terbaik semampu kita. Ketika hasilnya tak cukup menghibur hati dan pikiran juga fisik tubuh yang terlanjur lelah, apa yang bisa diharap kemudian? Mungkin kebesaran hati untuk melihat bahwa Allah mengatur hal lain yang lebih pantas. Yang mengetahui yang terbaik buat kita tentu saja Pencipta kita bukan, mana mungkin yang lain? Dan mana mungkin diri kita yang lebih tahu dari pada Nya? Mana bisa kita mendangkalkan diri dengan menuduh-nuduh begitu rupa?

Allah menyimpan janjiNya sendiri. Jika pun Ia menunda sesuatu, yakin saja, mungkin kita diminta bersabar dan menempa diri untuk siap menerima hal itu nanti, bukan sekarang, atau mungkin hal lain yang lebih baik akan datang.
Jika Allah memberikan apa yang kita minta, mungkin saja Allah menguji kesungguhan kita, apa benar kita mampu menjaga apa yang kita minta agar diberi. Jika Allah ternyata memang menahannya buat kita, tentu Allah tahu kita berhak mendapatkan yang lebih baik. Perencanaan Allah takkan pernah tertukar, apa yang menjadi hak dan rizki kita juga begitu bukan?

Maka, ketika kemudian kesedihan yang berbaris setelah sesuatu yang kita harapkan tepat di pelupuk mata namun kita tidak mendapatkannya, tak apa. Sedih dan kecewa adalah kualitas paling manusiawi dari diri kita, Setelah itu kita harus segera memagari kekecewaan itu dengan rasa kesyukuran dan berbaik sangka pada ketetapan Allah. Bukankah Allah itu mengikuti sangkaan hamba-Nya? Maka bersangkalah yang baik-baik pada-Nya. Aturlah sedikit persangkaan baik kita.
Mungkin kecewa dan berduka itu tidak hilang serta merta dan sekejap mata. Tapi seberapa lama kita akan berduka hanya kita yang tahu jawabannya. Kita hanya akan terluka dan sedih sejauh yang kita inginkan. Jika kita segera menghentikannya, maka ia akan berhenti, jika kita ‘bertekad’ meneruskannya, tentu ia akan tinggal lebih lama seperti yang kita minta. Maka mintalah ia segera pergi saja, jangan berlama-lama di tempat kita, karena hal yang baik tak akan menunggu lama jika kita pun tak menyimpan tamu duka itu bersama kita selamanya.

Dr. Aidh Al-Qarni juga begitu menyentuh hati. Bukan hanya sekedar dengan melirik sekilas pada judul bukunya yang fenomenal itu, kita sudah diajak move on dari apapun penyebab kesedihan kita. La Tahzan, Jangan bersedih, paling tidak janganlah berlarut-larut dalam kesedihan.
Wallahu ‘alam.

Petang Rajab Pertama

Awal Rajab tahun ini jatuh di hari Jum'at yang mulia. Sedikit terselit rasa sedih karena tidak bisa berpuasa di Satu Rajab sebagaimana disunnahkan Rasul. Tapi, bukankah takdir wanita yang seperti ini juga salah satu bentuk kasih sayang Allah? Then, there's no need to be sad.
"Allaahumma baariklana fii rajab wa sya'ban wa balighna ramadhaan. Aamin Ya Rabb"

Menghabiskan hari ini yang termasuk dalam rangkaian long-weekend ini, karena mulai kamis kemarin memang sudah mulai libur, masih dengan agenda rumahan saja. Semalam janjian masak Cumi Goreng Mentega. Semalam langsung nge browse resep di internet. We found it! ya elaah, namanya juga google jaman sekarang, kalau mau nyari, informasi apa aja pasti tersedia. Setelah print resep selesai, maka agenda utama tadi pagi ke pasar dan belanja bahan-bahan. Syukurnya ga terlalu mutar sana sini, langsung lengkap belanjaannya dan langsung pulang. Jadi... akhirnya keinginan makan Cumi Goreng Mentega pun kesampaian hari ini. Alhamdulillah . Hasil masakan percobaan pertama ini sukses dan rasanya sedaaap. Yokatta ne. XD. Besok-besok dah bisa coba tanpa resep karena ternyata memang ga sulit bikinnya asalkan bahannya lengkap aja. :)

Hingga hari ini belum ada rencana menghabiskan libur empat hari ini dengan piknik atau plesiran kemana itu. Mungkin gak ada juga mengingat Sabtu dan Minggu siang adalah jadwal ngajar Privat Bahasa Inggris zz. Well, tak mengapa, kita nikmati saja kelapangan waktu yang masih ada ini dengan cara kita masing-masing. Sepanjang kita merasa nyaman dan pikiran menjadi lebih rileks setelah hari-hari padat kemarin. :)

Lalu, apa yang terlintas di pikiran sekarang selagi menikmati petang di depan layar begini? hmm, sou da ne. Oishii so... XD.
Mungkin, jika hujan kembali turun sore ini, secangkir coklat hangat dan sepotong cheese cake tentu saja bukan pilihan yang buruk. Maybe I can have some. Huhuhu.
*tersadar tiba-tiba dan terfikir sesuatu*


Someone We Miss The Most



Apa maksud dari postingan ini? Maksud? Umm, mungkin sebab musabab terbitnya note ini? To tell the truth, lebih kurang didorong oleh dua alasan utama. Yang pertama, saya sedang mengecek draft di blog ‘sana’ dan menemukan onggokan ini di antara tumpukan draft . Yang kedua, saya sedang memikirkan ‘seseorang’ itu karena memang sudah lama tidak bertemu. Oh, well… tujuh bulan sudah saya anggap lama lah. Fufufu.
Tulisan ini bisa dibilang dipicu oleh kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu ketika saya masih di Fukui. Jadi, ini bisa juga dianggap sebagai menuliskan pengalaman, more and less. :D

Suatu hari di saat itu, di kelas bahasa, seperti biasa sebelum kelas dimulai, satu orang yang kena giliran pada hari itu, akan menuliskan tanggal, hari, dan keadaan cuaca hari itu di papan tulis. Selanjutnya, mengambil undian secara acak dari sensei. Itu undian sebutan kami, yang pada kenyataannya adalah kertas-kertas yang berisi topik pembicaraan. Jadi, setelah diambil satu topik, speech pun dimulai, secara spontan menurut topik yang didapatkan, dan tentu saja kami semua tidak mengetahui topik2 itu sebelumnya.

Kebetulan sekali pada hari itu adalah giliran saya. Topik undian tanpa hadiah saya kali ini agak meleset jauh dari perkiraan. Biasanya walaupun tidak tahu tapi kurang lebih ada yang mengena sedikit lah. Tapi kali ini?
"Ima, ichiban aitai hito" --> "Someone you miss the most"

Well, perlu waktu untuk menyusun beberapa frase kalimat di dalam kepala, lalu mengeluarkannya untuk didengar oleh semua. Apalagi untuk sesuatu yang di luar prediksi seperti ini. Anehnya, seisi ruangan senyum-senyum penuh arti. Lhaa...memang dikiranya saya sedang mau bilang rindu untuk siapa? :-S
Lalu mulailah saya berceloteh tentang sosok itu. Yang saya kagumi walaupun hingga saat ini saya belum sempat mengatakannya bahwa saya begitu mengaguminya. Yang darinya saya belajar untuk jadi lebih kuat walaupun tidak bisa serius.
Lalu karangan lisan amburadul tak terkendali itu pun selesai. Tiba sesi pertanyaan... *siap-siap*

Beberapa yang selama speech berlangsung terlihat mengangguk atau sesekali senyum-senyum mengacungkan tangan. Duh! Saya cukup paham bagaimana kemudian mereka membombardir saya dengan sporadis. Tanpa disangka pertanyaan sepele tapi butuh jawaban yang tidak bertele-tele itu pun keluar.
"Kenapa harus dia?"

Saya yang Kena Giliran Speech (SKGS) : "Because she’s my mom..." jawab saya dengan senyum gelisah. Bagi saya empat kata itu cukup mewakili bagaimana ambisi saya untuk menjelaskan bahwa saya memang pantas untuk melakukan hal itu. Bahwa itu memang pantas untuk orang yang saya rindukan itu... ;)
Tanpa disangka dalam hitungan detik, diujung kalimat saya itu...
"Gerrrr....huaahuahua..." rentetan itu tidak berjeda hingga beberapa detik...
"Hmm, oke oke... jadi saya jelaskan sedikit deh." saya berusaha sok menyelamatkan diri.

Lalu saya pun bercerita tentang sosok itu. Awalnya sambil tertawa dan dengan ringan saja. Tapi, tanpa sadar saya tiba-tiba disergap rasa aneh yang menjalari hingga ke ujung saraf (?). Rasanya seperti disedot ke pusaran rasa itu. Hmm... walaupun begitu, toh tidak ada perubahan berarti yang tertangkap oleh mereka saat itu. Yokatta (Syukurlah)!! Lagipun, hehe... semacam ada enggan yang tak terdefinisi la. Hahaha.

Lalu acungan tangan selanjutnya memaksa membuat saya harus menjawab, " Adakah kamu menyukai masakannya?"
Haa, pertanyaan apa ini? Tentu hampir bisa dipastikan bagaimana jawaban saya. Jelas-jelas saja saya menyukai masakan ibu saya. Bahkan pernah beberapa kali sampai terbawa mimpi, beliau datang lalu saya meminta dimasakkan makanan favorit saya... Saya yakin hampir 68 % para anak menyukai masakan Ibu mereka. Sudah terlalu parah orang percaya bahwa masakan Ibu adalah yang paling "pas" di antara lainnya. Sebenarnya logic saja, toh memang sejak kita kecil masakan Ibu terus diakrabi lidah kita... Toh memang akan aneh jika kemudian kita mengatakan masakan Ibu tidak cocok dengan selera kita. Agak lucu. Atau malah tidak sama sekali? Walau tentu saja, bisa jadi ada,

Lalu pertanyaan berlanjut
"Koibito ni aitakunai?" --> (Don`t you miss your boyfriend?)

Waaa…hh, tak terbayang, dengan sok diplomatis pasti menjawab dan otomatis menyelamatkan diri dari pertanyaan yang memang sudah diprediksi itu. Tidak berbentuk agaknya di pikiran saya seperti apa bentuk "hal" yang mereka maksud itu. (ish, ish, hahaha).

Setelah saya kembali ke meja, sempat minta ijin ke Sensei mau tanya satu satu ke tiap orang. Kalau versi mereka, siapa yang paling dirindukan saat ini... Sensei pun antusias ingin tahu. Jadilah kemudian satu persatu mengungkapkan jawaban. Dan... tebak, apa jawaban mereka?
Semua tanpa kecuali memberikan satu jawaban yang sama persis dengan saya. Haiyaaa... jadi harusnya jawaban saya itu memang sangat menusiawi bukan? Lalu kenapa harus ditertawakan? :evil:
Huh...!
Tapi lalu semua mengangguk-angguk dengan gaya tak lazim. Sebabnya hanya satu, “mochiron, okaasan da yo!”
Jawaban yang ternyata malah sama itu!! XD
Tentu saja bagi kita berbekas sekali sosok itu. Lalu ayah? Langsung deh setelah Ibu, bagi saya ayah. Walaupun sebenarnya itu bukan esensial masalah nomor-nomor urut seperti ini.

Karena ini masalah perasaan tentu sulit untuk mengukur kadar atau levelnya. Kalau ingin tepat bermain seperti agak hitung-hitungan begitu, sebenarnya ibu adalah sosok paling berpengaruh bagi saya. Ayah? Sama. Sama sekali tidak berarti saat saya mengatakan Ibu yang paling saya inginkan saat itu, saya menomorduakan sosok ayah. Bukan. Sama sekali bukan.
Mereka sama dekatnya ke hati dan diri saya. Tapi entah kenapa saat ditodong posisi pertama untuk disebut, saya memilih menyebut Ibu…

‘Ala kulli hal, anyhow, to my Dad, I love you so much, even more than I can imagine. Thank you for being a good partner-of-life for my mom. From the bottom of my heart, I love you both. Semoga penjagaan Allah senantiasa bersama kalian, Insya Allah.

ps :
the image was taken from here