Rindu ini, Bunda...

Tertulis ini karena rindu itu, padamu...


Mengeja Bait Cinta Bunda

Bunda, saat keajaiban diizinkan terjadi, kalau boleh kupintal semua udara yang ada lalu kujalin dengan renda dan benang angin tiap musim, menjadi nafas cinta, selalunya kuyakin ia takkan pernah cukup buat mengeja bait cintamu

Bunda, ketika semua udara itu berubah menjadi cinta, selalunya ia tak mampu membingkai kasihmu yang melaut itu... Selalunya akan begitu?

November ini hadir kembali. Indah... Mungkin karena Engkau dan Ayah dilahirkan di bulan ini...? Bukan? Ah entahlah, kutak punya cukup kata untuk mengeja...
Maka Bunda, maafkan jika pernah ada urai bening mutiaramu karena aku...
Maafkan jika ada luka mengusik ruang batinmu...
Maafkan...
Karena selalunya aku tak cukup mampu mengeja bait cintamu...
Tapi aku tetap akan berusaha...
Hingga nanti di akhir pertemuan kita
Biar Allah saja yang menetapkan skenario-Nya

Selamat Hari Lahir, Bunda
Engkau yang tak lelah menuntunku
Ke jalan penuh bunga
Dengan buku-buku cinta
Ah, aku tak pernah selesai mengeja tiap bait kata
di lembar-lembar bukumu Bunda...

Kutitip salam pada udara, angin musim, semua makhluk Tuhan kita
Moga mereka sampaikan pada Bunda
Bahwa aku terus mengeja
Mengeja Bait Cinta Bunda
Moga ianya terus seperti itu
Hingga nanti ke ujung usia
Kala kaki-kaki menjejak syurga...

--
Hmm, zz nulis itu pas November 3 tahun lalu. Jadi, udah jelas kan kenapa beberapa bait terasa kurang up to date. hehe. Yang menggerakkan tangan di keyboard untuk entri ini adalah kerinduan yang teramat sangat padamu, bunda. Allah, sayangilah ia selalu, juga Ayah, sosok yang sangat ia cintai. Jagakan mereka selalu saat penjagaanku tidak sampai pada mereka.

0 comments:

Post a Comment