A Movie Review : Daisy

Banyak orang yang tiap kali denger film atau drama Korea disebut langsung pasang ekpresi ala rolling-eyes, (not to mention mata mengerjap penuh antusias ABG lah ya, namanya juga Korean-waves udah jadi salah satu budaya pop di masyarakat kita khususnya anak muda dan remaja sekarang ini), padahal, toh gak semua film atau drama Korea itu sekedar snack ringan ajang bertebarnya cowok cewek lucu imut dengan jalur cerita yang tipikal. Biasanya menurut zz detil cerita, penjiwaan karakter,  dan  background detail yang  mencakup tempat, budaya, bahasa, fashion memang daya tarik penting dari produk negara satu ini. No argument there. Namun terbukti, ada juga kok drama atau film mereka yang memang berisi, punya pesan moral penting, berkarakter,  dan point utama lain yang memang tidak kita dapatkan di film atau sinetron lokal. Jadi,  ada baiknya tidak digeneralisir dulu, sama kayak ternyata beberapa film hindustan terbukti punya pengaruh positif dan realistis dan menyampaikan pesan moralnya dengan baik.

Nah, zz sendiri memang gak banyak tahu atau nonton film Korea, masih bisa dihitung jari lah,walaupun ada beberapa yang  memang sengaja beli abis baca review atau kebetulan ngopy dari temen. Karena memang dulu banyakan tahu drama atau film Jepang (yang sekarang memang lagi bergeser oleh takdir bernama trend?) Tapi pas nonton film yang satu ini, self-satisfaction zz terdeteksi mencapai angka 9! Keren kan? :D (FYI, memang zz doang yang bisa ngerasain parameter ini. XD ).
the bridge I built became a bridge between you and him ...
Abis googling ke beberapa, ternyata film Korea ini produksi Hongkong, sutradaranya aja namanya Andrew Lau -bukan Andy Lau-red, dan yang terlibat di sana pun banyakan udah profesional bahkan katanya ada yang terlibat dalam tim visual-Effect film Spiderman. Makanya pas di adegan baku tembaknya jadi keren begitu kali ya? Baku tembak? Yep, walaupun film ini bergenre drama-ballads sih.  karena memang salah satu tokoh utamanya adalah pembunuh bayaran yang mengagumi seseorang namun memilih hanya mengaguminya dari jauh karena memang profesinya tidak memungkinkannya menyatakan perasaan. Penyeimbang tokoh pembunuh ini adalah seorang agen interpol asal Korea yang bertugas di Belanda. Keduanya setelah beberapa kejadian sedemikian rupa akhirnya menyukai gadis yang sama, gadis Korea yang suka melukis dan memang berprofesi sebagai pelukis di jalanan di taman kota. I will put this as a triangle-romance then. Tapi jangan kuatir, film satu ini alur ceritanya tidak gampang ditebak dan terbukti kisah roman itu seperti kenyataannya  gak melulu harus happy-ending. Banyak kok di luar sana bertabur kisah sejati dimana para pelakonnya harus struggling on manythings, kan? Halah...  :D

Bisa dibilang, Zz cukup menikmati film ini secara keseluruhan. Setting-nya, pemilihan tiap sudut dalam pengambilan gambar, keindahan Amsterdam dengan  bangunan klasik khas Eropa, suasana musim gugurnya, akting para pemainnya, musik latarnya, aduhhh.. zz bisa jadi sangat senang gini pas nonton film ini. Pertama karena memang tentu saja gak time-consuming, gak kayak drama kan?

Ironinya adalah ini cerita tentang rahasia perasaan yang terungkap ketika semua telah terlambat. Adalah Hye-young, seorang cewek Korea, pelukis jalanan yang tinggal di Amsterdam bersama kakeknya yang memiliki toko barang antik. Ada seorang pengagum rahasia Hye-Young yang  ternyata seorang pembunuh bayaran yang selalu mengirimkan bunga Daisy tiap pukul 04.15 sore untuk Hye-Young. Hye-young tak pernah tahu siapa yang selalu mengirimkan bunga-bunga itu setiap hari hingga kemudian seorang laki-laki yang di tangannya memegang sepot kecil bunga Daisy mendatanginya di taman biasa Hye-Young melukis dan minta dilukis. Hye-Young kaget dan jadi salah tingkah ketika melihat pot putih berisi Daisy itu. Wajar sih ya, dia kan punya emotional-attachment yang cukup besar sama bunga itu sejak beberapa waktu.


Sayangnya sebelum Hye-Young menyelesaikan lukisan pesanannya, laki-laki itu tampak tergesa pergi dan mengatakan ia akan kembali besok pada waktu yang sama. Ia pergi seperti ada sesuatu penting yang terjadi, bahkan bunga Daisi yang dibawanya tertinggal begitu saja. Hye-Young berusaha memanggilnya namun lelaki itu hanya tersenyum sebelum berbalik menjauh. Sesaat Hye-Young tertegun lalu tersenyum penuh arti saat memandangi Daisi itu. Belakangan terungkap ternyata Hye-Young dimanfaatkan Jeung-Wo saat ia bertugas menyelidiki penyelundupan narkoba di salah satu bangunan di sekitar situ.


Keesokan harinya lelaki itu menepati janjinya untuk datang sehingga lukisan itu bisa diselesaikan. Hye-Young mengatakan ia menumpahkan kopi ke sketsa yang dibuatnya kemarin jadi harus dilukis ulang. Jeung-Wo pun setuju. Saat pertama kali melihat Jeung-Wo yang datang dengan bunga Daisi di tangannya itu, Hye-Young sudah mengira bahwa itulah orang yang selama ini ditunggunya dan mengiriminya bunga setiap hari.

Film ini memang akhirnya menyedihkan sekali. Kind of tearjerker. Tapi pesan moralnya smpe kok. Ternyata memang terkadang the wall of silence itu riskan sekali memicu kesalahpahaman. Kalau suka ya sampaikan saja, kalau bukan ya juga bilang aja. Aish, kesimpulan macam apa itu nak? :p
Baiklah, baiklah, saya mengerti, pada beberapa keadaan terkadang hal yang sederhana pun tidak sesederhana itu untuk dilakukan, banyak sekali pertimbangannya dengan harapan tidak akan muncul masalah. Nyatanya, hal yang lebih buruk malah terjadi kan? Kesalahpahaman serius itu kemudian memang  terurai ketika semua sudah terlambat dan yah mungkin terlihat sia-sia sih, tapi ya, begitulah mungkin garis takdirnya.

Jadi?

Well... yeah, this movie is a good one, recommended. It’s worth watching indeed. Apalagi Ost pengisinya musik klasik yang keren-keren dan tenang, apalagi pas piano dan gitarnya yang muncul saat Park-Yi, the killer menunjukkan diri secara tidak kentara dan menganggukkan kepala ke Hye-Young pada saat gadis itu hendak pulang sambil menyapa orang-orang di taman situ. That’s one I love the most. ^^
Zz juga berhasil menyebarkan 'virus' Daisy ini ke beberapa orang terdekat, si bungsu Ata dan Oya, si Adek, dan juga Kak Uji. hihihi... We had lotto fun discussing it.  Umm... who else? tak ingat lagi dah. :D


Btw, the message Park Yi wrote for Hye-Young of which she realized a mistaken thing backward succesfully make a heartwrenching inside... 
~ I am sorry. At first, I just want to help this lovely young woman. I built a bridge, then you gave me a painting. And I started sending Daisies. But the bridge I built became a bridge between you and him. Later, I could see you so sad after he left. That’s why I showed up. Now, I’ll give your heart back ~ 

0 comments:

Post a Comment