Melihatmu di merata tempat

Ada saat-saat ketika hati ingin sekali pulang. menyusup ke bawah pelukanmu.
menyelinap dari belakangmu, lalu memelukmu yang tertidur, lalu membaringkan diri di sebelahmu, ataupun sambil merangkulmu. diam-diam saja aku melakukannya.
maka jenak ini bernama rindu.


Kau akan mungkin sedang memasak, atau memanaskan sup ketika aku tiba di rumah hampir tengah malam.
"makan apa di jalan?" begitu tanyamu, dalam rekam jejak memoriku.
atau
"bagaimana di rumah sana?"

Lalu aku akan bercerita panjang lebar hari-hariku di rumah kos di Banda Aceh, bersama Dek Alfir dan Dek Amar. Lalu aku ganti bertanya dan kau akan bercerita tentang hari-harimu di sekolah dan di rumah dengan Ayah dan Dek Ata. Karena hanya kalian bertiga di rumah. Maka ceritamu  akan berkisar tentang Ata dan hal-hal lucu yang dilakukannya di rumah. Tentang ayah yang selalu sabar mengantar dan menjemputmu saban hari. ya, tentangnya, laki-laki yang kau banggakan setelah ayahmu. Ataupun juga tentang sayur bayam yang menurutmu terasa aneh sekarang. Tentang bumbu pisang goreng langganan kita puluhan tahun yang tidak berubah rasanya. Tentang uwak dekat rumah atau ibu guru tertentu temanmu di sekolah. Atau pula tentang piring berwarna putih yang lebih kau sukai lalu aku akan menimpali kalau aku menyukai versi warna hitamnya karena aku lebih dulu melihat gelasnya. Lalu kita berusaha memuji warna kesukaan kita masing-masing, 'iyaa, dua-duanya bagus juga..."
Hal remeh temeh dan segala tentangmu yang membuatku tersenyum sendiri atau mengerjapkan mata yang tiba-tiba berair tiap kali mengingat sosokmu. Sedu tertahan, aku tahu untuk beberapa saat lamanya aku tak bisa menghamburkan diri ke arahmu, ke dalam dua tanganmu. Lalu engkau akan mengusap kepalaku. Hening di sela dudukku bernama rindu.

Kadang di lain waktu aku akan duduk di meja makan, menungguimu. mungkin engkau sedang memanaskan sup dan ikan buat makan malamku yang sudah dini hari. Walaupun aku tak makan banyak, dan bilang tak apa, kau tetap melakukannya jika kau tahu aku pulang. Lalu kau akan menemaniku makan, meletakkan emping goreng kesukaanku di atas meja sambil menanyaiku banyak hal, menatap wajahku dalam-dalam. Aku seperti bisa melihat kedalaman hatimu di bening teduh matamu. Ada binar di sana, menghangatkan tiap sudut hati yang dingin. Aku selalu bersyukur tiap kali pulang melihat wajahmu.

Kau juga akan menanyakanku ingin dimasakkan apa. Atau kau akan membawakanku kue jajanan atau mie goreng yang dijual di sekolahmu. Aku seperti merasa masih berlari-lari dalam seragam merah putih dan engkau setiap pagi menyisir rambutku. kadang aku seperti masih bisa mendengar omelan pagi khasmu karena kami tidak bergegas atau tidak menghabiskan sarapan atau bertengkar rutin yang tidak jelas juntrungannya dan membuatmu kesal.

Aku masih ingat ketika dengan hati-hati bertanya padamu apakah aku membuatmu sedih dan kesepian karena jarang sekali pulang dan tinggal berjauhan darimu, atau bahkan ketika memutuskan melangkahkan kaki memenuhi janji dan cita-citaku. Aku memutar-mutar cangkir kopiku dengan senyum berusaha mencandaimu bahwa engkau pasti punya ayah yang begitu perhatian dan tidak mungkin akan kesepian. aku setengah bercanda sebenarnya. :)

Kau berbalik dari counter meja dapur sedang mengaduk kuah yang sedang dimasak, tersenyum sebentar menatapku.
"Mungkin karena mamak ingatnya kamu di Banda aja, gak jauh. jadi masih bisa lah, gak apa-apa. Jadi gak terlalu berasa"
Sambil mengangguk-angguk lega, paling tidak aku tidak membuatmu sedih dengan jarang menghabiskan waktu di rumah. Sejujurnya ada rasa bersalah dan tercubit ketika tiap kali engkau menelfon namun pertanyaanmu selalu tidak pernah lupa,'kapan pulang?'.

Aku menikmati semua saat bersamamu Mak. diomeli, dimarahi, diceritakan banyak hal, mengantarmu belanja, membuatkan teh, membukakan jendela kamarmu di pagi hari dan menutupnya sebelum magrib. Menemanimu di dapur, berceloteh banyak hal, tertawa dan kadang merengek tidak penting namun menyenangkan hatiku. menonton TV bersamamu walau lebih sering aku kemudian berbaring dan dipijat minyak kayu putih jika aku sedang kurang sehat. Atau sebaliknya, memijat kepalamu dan bercerita kesana kemari tentang hari-harimu dan banyak hal yang kau lakukan yang banyak sekali terlewatkan olehku.

Tahukah mak, engkau masih seseorang yang paling bisa membuatku tertawa tiba-tiba ketika sendirian lalu terduduk diam di sisi tempat tidur dan nelangsa mengingat semua hal tentangmu. Yang membuatku mennagis diam-diam saat menyuapkan makanan ke mulutku karena mengingat masakanmu yang selalu menjadi primadona dan senyum bahagiamu ketika menunggu kami mencicipinya lalu serempak memuji rasanya.
 "Enak kalii alhamdulillaaah"
"aaah... surga duniaa..."
"Kekmana dulu gak pernah mendekati rasanya kalau kami yang buat?"
dan segudang komentar yang membuatmu tertawa-tawa dan menyuruh kami melanjutkan makan. Kau mungkin berusaha menyembunyikan emosimu saat itu, anak-anakmu pulang, duduk mengitari meja makan dan makan masakanmu, menikmatinya seolah kami anak-anakmu yang kemarin pagi masih diantar ke taman kanak-kanak, yang hampir setiap saat selalu merepotkanmu.

Engkau pula, yang suara, wajah di layar saat sekarang kita terpisah jauh selalu menjadi obat penentram gelisahku. Skype berjam-jam yang mampu kita lakukan untuk membunuh rindu, mendengarkan ceritamu tentang hari itu, tentang kelucuan seminggu lalu, tentang saudara yang meninggal, tentang sepupu yang menikah atau melahirkan, tentang kau dan ayah yang pergi ke pasar atau sekedar jalan-jalan.
Rindu itu menguap sesaat namun segera tertabung lagi setiap kali kita usai menutup layar. Selalu begitu.

Mak, selalu ada wajah dan senyummu di merata tempat tiap kali aku mengayunkan langkah di sini. kadang di rumah, di dapurku, di sudut kamarku, atau di belakangku menungguku selesai tilawah, aku merasa engkau ada di merata sudut. Aku tahu, aku rindu padamu sebanyak itu.


 and today, when I look up to the sky, it took me miles away from here... 



1 comments:

airsoft gun murah said...

Jadi kangen mama dirumah :(

Post a Comment